
Hai, kemarin saya gak nulis blog, Cuma sehari sih tapi ya lumayan lah baru disuruh nulis udah bolong 1 hari haha. Kemarin abis ada acara keluarga terus pas pulang keadaan udah gak fit, iya sakit. Gak ngerti juga kenapa bisa sakit, mungkin karena faktor cuaca yang memang lagi kurang baik. Jadi kemarin sesampainya di rumah saya langsung tepar, alias tidur. Dua hari yang lalu kan saya udah curhat ya tentang diri saya, dan sekarang saya akan curhat lagi. Gak apa apa ya baca curhatan saya terus. Hehe.
Jadi, saya tuh salah satu dari sekian banyak cat lovers garis keras, padahal dulu se-benci itu sama kucing tapi entah kenapa sekarang jadi se-suka itu sama kucing. Awalnya sih karena kakak saya beli kucing temennya yang mungkin umurnya masih sekitar 3-4 bulan saat itu, dan dia diberi nama “Pesek”. Iya dikasih nama Pesek soalnya hidungnya pesek, karena dia merupakan kucing jenis Persian dan warnanya hitam putih. Awalnya bagi saya Pesek bukanlah bagian dari anggota kekuarga kami, saya bener – bener benci saat itu sama Pesek, saking saya benci sama dia rasanya saya pengen buang dia diem – diem tanpa sepengetahuan kakak saya. Karena setiap malam dia selalu mengganggu saya, dia mendekati saya dan menggigiti rambut saya.
Namun seiring berjalannya waktu entah bagaimana ceritanya saya jadi amat sangat jatuh cinta sama Pesek, bukan sama Pesek aja sih tapi sama semua kucing yang saya temui. Namun waktu berjalan sangat cepat sehingga tidak terasa kalau Pesek sudah memiliki banyak keturunan. Tapi sayang, Pesek bukan tipe kucing yang suka dengan kucing se-rasnya. Justru sebaliknya, Pesek malah lebih menyukai kucing domestik, biasanya sih orang – orang lebih kenal dengan sebutan “kucing kampung”. Dia akhirnya kawin dengan kucing kampung yang ada di dekat rumah saya, alhasil anaknya adalah anak campuran antara ras persian dan domestik.
Semenjak saat itu saya jadi lebih suka kucing, bukan lebih lagi tapi emang jadi sangat sangat suka dengan kucing. Sekarang saya memiliki kucing sebanyak 15 ekor yang mayoritas adalah kucing domestik. Beberapa dari mereka masih ada keturunan Peseknya, namun sebagian dari mereka sudah bukan lagi turunan dari Pesek. Tapi sayang sekali, Pesek Cuma hidup selama 6 tahun, iya sekarang dia udah ga ada. Saya Cuma mau mengucapkan terimakasih yang banyak kepada Pesek, ya meskipun dia ga akan ngerti juga sih. Tapi kalau bukan karena Pesek mungkin saya tidak akan menyukai kucing sampai saat ini. Atau mungkin lebih parahnya saya akan menjadi orang – orang yang sangat amat benci dengan kucing sehingga bisa saja saya memandang mereka hanya sebelah mata. Saat ini pesek bukanlah hanya sekedar kucing bagi saya dan juga keluarga saya, melainkan sudah seperti bagian dari kami. Karena Pesek kami jadi lebih memahami bagaimana lebih menghargai dan memperlakukan makhluk hidup sama seperti kami memperlakukan diri kami sendiri.