Sabtu, 02 Februari 2019

Meet my cutie pie




Hai, kemarin saya gak nulis blog, Cuma sehari sih tapi ya lumayan lah baru disuruh nulis udah bolong 1 hari haha. Kemarin abis ada acara keluarga terus pas pulang keadaan udah gak fit, iya sakit. Gak ngerti juga kenapa bisa sakit, mungkin karena faktor cuaca yang memang lagi kurang baik. Jadi kemarin sesampainya di rumah saya langsung tepar, alias tidur. Dua hari yang lalu kan saya udah curhat ya tentang diri saya, dan sekarang saya akan curhat lagi. Gak apa apa ya baca curhatan saya terus. Hehe.

Jadi, saya tuh salah satu dari sekian banyak cat lovers garis keras, padahal dulu se-benci itu sama kucing tapi entah kenapa sekarang jadi se-suka itu sama kucing. Awalnya sih karena kakak saya beli kucing temennya yang mungkin umurnya masih sekitar 3-4 bulan saat itu, dan dia diberi nama “Pesek”. Iya dikasih nama Pesek soalnya hidungnya pesek, karena dia merupakan  kucing jenis Persian dan warnanya hitam putih. Awalnya bagi saya Pesek bukanlah bagian dari anggota kekuarga kami, saya bener – bener benci saat itu sama Pesek, saking saya benci sama dia rasanya saya pengen buang dia diem – diem tanpa sepengetahuan kakak saya. Karena setiap malam dia selalu mengganggu saya, dia mendekati saya dan menggigiti rambut saya.

Namun seiring berjalannya waktu entah bagaimana ceritanya saya jadi amat sangat jatuh cinta sama Pesek, bukan sama Pesek aja sih tapi sama semua kucing yang saya temui. Namun waktu berjalan sangat cepat sehingga tidak terasa kalau Pesek sudah memiliki banyak keturunan. Tapi sayang, Pesek bukan tipe kucing yang suka dengan kucing se-rasnya. Justru sebaliknya, Pesek malah lebih menyukai kucing domestik, biasanya sih orang – orang lebih kenal dengan sebutan “kucing kampung”. Dia akhirnya kawin dengan kucing kampung yang ada di dekat rumah saya, alhasil anaknya adalah anak campuran antara ras persian dan domestik.

Semenjak saat itu saya jadi lebih suka kucing, bukan lebih lagi tapi emang jadi sangat sangat suka dengan kucing. Sekarang saya memiliki kucing sebanyak 15 ekor yang mayoritas adalah kucing domestik. Beberapa dari mereka masih ada keturunan Peseknya, namun sebagian dari mereka sudah bukan lagi turunan dari Pesek. Tapi sayang sekali, Pesek Cuma hidup selama 6 tahun, iya sekarang dia udah ga ada. Saya Cuma mau mengucapkan terimakasih yang banyak kepada Pesek, ya meskipun dia ga akan ngerti juga sih. Tapi kalau bukan karena Pesek mungkin saya tidak akan menyukai kucing sampai saat ini. Atau mungkin lebih parahnya saya akan menjadi orang – orang yang sangat amat benci dengan kucing sehingga bisa saja saya memandang mereka hanya sebelah mata. Saat ini pesek bukanlah hanya sekedar kucing bagi saya dan juga keluarga saya, melainkan sudah seperti bagian dari kami. Karena Pesek kami jadi lebih memahami bagaimana lebih menghargai dan memperlakukan makhluk hidup sama seperti kami memperlakukan diri kami sendiri.


Kamis, 31 Januari 2019

SAYA (lagi)

Pertama – tama saya ingin memperkenalkan diri (lagi, tapi sedikit lebih dalam), mungkin tidak terlalu penting tapi kata orang “tak kenal maka tak sayang”, makanya harus kenal saya dulu siapa tau  bisa sayang. Nama saya Caecilia Wanda Marisa, bagi saya itu bukan hanya sekedar nama, melainkan memiliki kekuatan tersendiri di dalamnya, ya walaupun orangtua saya tidak memberitahu secara jelas apa maksud dari nama saya tersebut. Meski begitu saya yakin kedua orangtua saya menyelipkan makna baik di dalam nama saya, walaupun saya juga tidak tahu pasti apa itu. Lalu saya memiliki satu kakak laki - laki, nama depan kami tidak jauh berbeda, saya Caecilia dan dia Caesar. Selisih umur kami hanya 4 tahun, tidak terlalu jauh untuk ukuran kakak beradik, jadi kami sangat sering bertengkar. Saya juga tidak mengerti mengapa saya harus hidup bersama makhluk menyebalkan seperti dia. Namun pertengkaran kami yang seakan sudah menjadi rutinitassehari – hari itu  seketika berakhir setelah orangtua kami berpisah, kami harus mulai merangkul satu sama lain, hal tersebutlah yang mungkin membuat kami seketika menjadi seperti kakak beradik pada umumnya.

Sehari - hari saya menyibukan diri dengan menjadi seorang mahasiswa di salah satu universitas swasta di Tangerang Selatan, saya bukan termasuk mahasiswa yang pintar dan juga rajin, saya hanya berusaha melakukan yang terbaik dengan semaksimal mungkin. Terkadang saya merasa risih karena dengan keberadaan kakak saya, menurut saya ia terlalu berbakat sehingga sangat sering dipuji oleh keluarga saya. Maklum lah darah seni dari Ayah saya menurun ke kakak saya, jadi bakatnya selalu menjadi perbincangan ketika kami sedang kumpul keluarga.

Berbeda dengan kakak saya yang sibuk di dunia seni. Sebenarnya saya tidak begitu menyukai jurusan yang saya ambil saat ini, namun saya harus tetap melanjutkan apa yang sudah saya mulai sejak awal. Dulu saya memiliki cita – cita menjadi sastrawan, seperti Sapardi Djoko Damono. Bisa menulis puisi dan sajak dengan indah dan mampu dinikmati oleh banyak orang sebagai obat hati mereka. Namun apalah daya, orangtua saya tidak mengizinkan saya mengambil universitas di luar kota yang memiliki pendidikan sastra yang bagus. Saya sebagai anak yang memiliki kewajiban untuk mematuhi orangtua, jadi saya hanya bisa nurut apa yang diperintahkan oleh orangtua saya. Meskipun saya saat ini berada di jurusan yang saya tidak suka tetapi saya tetap  tidak ingin menyerah untuk menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Semoga dengan begitu saya mampu membuat kedua orangtua saya menjadi bangga terhadap saya, setidaknya tidak membuat malu.

Senin, 28 September 2015

Hari dimana aku mengenalnya

Pagi itu, banyak orang yg kulihat namun sorot mataku tertuju pada seseorang berdiri diseberang sana dengan gayanya yg mungkin itu justru menjadi ciri khasnya. Dia tertawa gembira memandangi setiap wajah disekitarnya. Tahun pertama semua berjalan biasa saja tanpa aku mengenalnya lebih jauh dan sekedar "ah tampan sekali namun sayang bermulut banyak" dulu, itulah julukanku untuknya karena memang semua orang tau bagaimana dia. Periang, banyak tertawa, banyak bicara sana sini. beda sekali dengan aku saat itu yang tidak mengenal banyak orang dan hanya dapat terdiam- berbicara sesekali jika memang perlu, pokoknya langit dan bumi banget deh aku sama dia.
Masuk tahun berikutnya, semua berawal baik-baik saja sampai pada akhirnya... Aku... Aku jadi sering bertemu dengannya, dan pagi itu merubah segalanya. Ia menyapaku, bermanis-manis didepanku ya meski ku tau aku tak dapat berharap lebih dengannya. Jika orang yang tidak dapat menahan hatinya- mungkin seperti aku, sudah jatuh cinta padanya. Siapa sih yang ga jatuh cinta sama dia, semua orang taulah dia memang tampan dan baru sekarang aku mengenalnya, bertemu dengannya hampir setiap hari bahkan setiap menit aku habiskan dengannya. Kadang membicarakan hal yang tidak kita mengerti sekalipun kita tetap asik berbicara, layaknya hewan yang baru menemukan habitatnya, sangat nyaman.

Gak berjalan lama, aku kehilangan habitatku, aku kehilangan kesempatan setiap menit untuk bersamanya, aku kehilangan semangat pagiku, aku kehilangannya. Seperti kata pepatah "Setiap orang berhak memilih dengan siapa ia akan jatuh cinta" tapi menurutku tidak begitu. "kita tidak dapat memilih dengan siapa kita akan jatuh cinta. karena kenyamanan dan rasa cinta itu datang dengan sendirinya tidak ada rekayasa akan hal itu". Kecewa memang, bohong saja ketika hewan kehilangan habitatnya tidak merasa kecewa. Aku sadar aku bukanlah orang yang dapat membuat ia jatuh cinta tapi selagi aku diberi kesempatan akan hal itu hingga sekarang pun aku ingin berusaha. Bicara soal saingan, aku gak mau peduli karna memang banyak! Bukan perkara mudah bagiku tetapi ya, namanya sudah sayang bisa apa hehehe.
Pagi selanjutnya kuawali dengan senyuman tetapi tetap tidak ada senyuman manis pagi hari darinya. Mungkin senyum itu bukan untukku lagi. Dan pagi pagiku berikutnya berubah menjadi......kelabu.

perkenalan

hai. sebelumnya kenalan dulu ya gue caecilia lbh sering dipanggil acil atau sesil. gue disini bakal sharing banyak hal. tentang curahan hati gue, bahkan sampe ke make up gue sehari-hari haha ga penting ya.. semoga kalian enjoy sm blog gue. mungkin nanti kalau kalian baca post gut rada lebay gitu kata-katanya, gue suka baca sajak atau puisi-puisi gitu soalnya jd suka kebawa lebaynya hehehe.. gue kurang suka novel fiksi gatau kenapa ya.. btw perkenalannya sampe sini ya.. cek jg instagram gue :  @caeciliadmr hehehe bye