Pernah gak sih kalian ngerasain rasanya dicintai? Diberikan
perhatian – perhatian kecil yang terkadang kalian sepelekan namun sebenarnya
begitu berarti. Aku benar – benar bersyukur karena aku masih bisa merasakan
bagaimana rasanya dicintai. Kata ibuku sih, salah satu tips bahagia itu bisa
merasa dicintai oleh orang – orang sekitar. Maka dari itu ibuku selalu
mengajarkanku bersikap baik agar aku dicintai oleh orang – orang disekitarku. Jika
kalian berpikir carita ini akan berisi tentang aku dan seorang laki – laki yang
tidak lain adalah kekasihku, ya mohon maaf aja nih kalian salah.
Cerita ini bermula ketika aku sudah mulai muak dengan segala
masalah yang ada di rumahku, aku memilih pergi dari rumah dan tinggal di rumah
tanteku yang jaraknya cukup jauh. Aku melakukan ini jelas dengan izin orantua
ku, aku tidak melakukannya dengan cara kabur ya. Awalnya alasan aku lebih
memilih tinggal disini adalah karena jarak yang lebih dekat dengan kampusku,
aku bisa lebih mengirit tenaga dan juga ongkos, karena rumahku cukup jauh dari
kampus.
Awalnya aku merasa tidak begitu betah tinggal disini, aku
merasa aku seperti tinggal di kosan, seperti teman – temanku yang lain. Bahkan aku
merasa lebih parah, jika teman – temanku yang tinggal dikosannya bisa melakukan
apa saja, seperti pulang malam, bawa teman ke kosan. Namun aku tidak, yang aku
rasakan saat itu adalah aku sangat tidak betah, aku tidak bisa melakukan hal –
hal yang biasanya aku lakukan, seperti pulang malam, bawa teman ke rumah,
teriak – teriak sesuka hati, dan juga membuat makanan apapun yang kuinginkan,
jika aku mau.
Namun jujur saja untuk pulang ke rumahku rasanya juga bukan
pilihan yang baik saat itu, aku merasa kuliahku akan lebih tidak terurus jika
aku pulang ke rumah. Bukan karena aku memiliki masalah dengan seisi rumahku,
aku hanya sedang tidak merasa nyaman juga di rumahku.
Rasanya bimbang sekali, aku tidak merasa betah berada di
kedua rumah yang sudah menerimaku dengan baik. Aku mulai berpikir, “lalu dimana
seharusnya aku tinggal?”. Karena disini aku merasa bahwa aku hidup seperti di
gua, yang jika sudah sampai langsung masuk kamar, dan keluar hanya untuk mandi
dan berangkat kuliah.
Namun suatu hari aku mendengar suara – suara kecil yang
saling bersahutan. Kurang lebih seperti ini percakapannya,
“Sisi udah pulang mi?” ya, itu suara om ku yang kudengar
saat aku sedang membersihkan badanku di kamar mandi.
“Udah tuh lagi mandi,” dijawab oleh tante ku yang saat itu epertinya
berada tidak jauh dari om ku.
“Udah makan belum dia? Belakangan ini dia pulang malam, coba
mami tanya sehat gak dia, takut sakit pulang malam terus, soalnya cuaca lagi
gak bagus juga”.
Sejenak aku terdiam. Jujur tidak tahu apa yang aku rasakan saat
itu, rasanya seperti senang, namun juga sedih. Aku merasa selama ini aku hanya
seperti manusia yang hidup di gua, aku hanya berdiam diri di kamar. Bahkan aku
sempat merasa bahwa om dan tanteku menganggap tidak menerima kehadiranku, karena
aku hanya bertemu mereka ketika malam hari dan itupun hanya sekedar sedikit
menyapa basa basi saja.
Namun aku benar – benar tidak menyangka bahwa disaat aku
sedang putus asa, bahkan aku merasa tidak ada tempat lagi yang mampu membuatku
nyaman ternyata masih ada orang yang menyayangiku begitu dalam. Mereka memberikan
kasih sayangnya padaku meskipun dengan cara yang aku tidak tahu sedikitpun,
mereka memperhatikanku diam – diam. Hari – hari setelah itu, benar saja aku
selalu diberikan vitamin, katanya sih karena aku sibuk dan aku butuh banget
vitamin biar gak sakit. Rasanya senang sekali bisa dicintai sebegitu dalamnya.
Teruntuk siapapun yang sedang merasa putus asa, coba lihat
kembali di sekitar kalian, pasti ada yang menyayangi kalian begitu dalam dan
berusaha membuat kalian merasa baik – baik saja meskipun dengan cara yang tidak
dapat kalian lihat, tapi kalian akan merasakannya dengan begitu jelas.
“Nothing else matters, really. Nothing else.
Life is not about Netflix and chill, neither is it about money or success. Life
is all about LOVE. Loving and being loved.” – Audrey Hepburn.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar