Selasa, 19 Februari 2019

Loving and being loved

Pernah gak sih kalian ngerasain rasanya dicintai? Diberikan perhatian – perhatian kecil yang terkadang kalian sepelekan namun sebenarnya begitu berarti. Aku benar – benar bersyukur karena aku masih bisa merasakan bagaimana rasanya dicintai. Kata ibuku sih, salah satu tips bahagia itu bisa merasa dicintai oleh orang – orang sekitar. Maka dari itu ibuku selalu mengajarkanku bersikap baik agar aku dicintai oleh orang – orang disekitarku. Jika kalian berpikir carita ini akan berisi tentang aku dan seorang laki – laki yang tidak lain adalah kekasihku, ya mohon maaf aja nih kalian salah.

Cerita ini bermula ketika aku sudah mulai muak dengan segala masalah yang ada di rumahku, aku memilih pergi dari rumah dan tinggal di rumah tanteku yang jaraknya cukup jauh. Aku melakukan ini jelas dengan izin orantua ku, aku tidak melakukannya dengan cara kabur ya. Awalnya alasan aku lebih memilih tinggal disini adalah karena jarak yang lebih dekat dengan kampusku, aku bisa lebih mengirit tenaga dan juga ongkos, karena rumahku cukup jauh dari kampus.

Awalnya aku merasa tidak begitu betah tinggal disini, aku merasa aku seperti tinggal di kosan, seperti teman – temanku yang lain. Bahkan aku merasa lebih parah, jika teman – temanku yang tinggal dikosannya bisa melakukan apa saja, seperti pulang malam, bawa teman ke kosan. Namun aku tidak, yang aku rasakan saat itu adalah aku sangat tidak betah, aku tidak bisa melakukan hal – hal yang biasanya aku lakukan, seperti pulang malam, bawa teman ke rumah, teriak – teriak sesuka hati, dan juga membuat makanan apapun yang kuinginkan, jika aku mau.

Namun jujur saja untuk pulang ke rumahku rasanya juga bukan pilihan yang baik saat itu, aku merasa kuliahku akan lebih tidak terurus jika aku pulang ke rumah. Bukan karena aku memiliki masalah dengan seisi rumahku, aku hanya sedang tidak merasa nyaman juga di rumahku.

Rasanya bimbang sekali, aku tidak merasa betah berada di kedua rumah yang sudah menerimaku dengan baik. Aku mulai berpikir, “lalu dimana seharusnya aku tinggal?”. Karena disini aku merasa bahwa aku hidup seperti di gua, yang jika sudah sampai langsung masuk kamar, dan keluar hanya untuk mandi dan berangkat kuliah.

Namun suatu hari aku mendengar suara – suara kecil yang saling bersahutan. Kurang lebih seperti ini percakapannya,

“Sisi udah pulang mi?” ya, itu suara om ku yang kudengar saat aku sedang membersihkan badanku di kamar mandi.

“Udah tuh lagi mandi,” dijawab oleh tante ku yang saat itu epertinya berada tidak jauh dari om ku.

“Udah makan belum dia? Belakangan ini dia pulang malam, coba mami tanya sehat gak dia, takut sakit pulang malam terus, soalnya cuaca lagi gak bagus juga”.

Sejenak aku terdiam. Jujur tidak tahu apa yang aku rasakan saat itu, rasanya seperti senang, namun juga sedih. Aku merasa selama ini aku hanya seperti manusia yang hidup di gua, aku hanya berdiam diri di kamar. Bahkan aku sempat merasa bahwa om dan tanteku menganggap tidak menerima kehadiranku, karena aku hanya bertemu mereka ketika malam hari dan itupun hanya sekedar sedikit menyapa basa basi saja.

Namun aku benar – benar tidak menyangka bahwa disaat aku sedang putus asa, bahkan aku merasa tidak ada tempat lagi yang mampu membuatku nyaman ternyata masih ada orang yang menyayangiku begitu dalam. Mereka memberikan kasih sayangnya padaku meskipun dengan cara yang aku tidak tahu sedikitpun, mereka memperhatikanku diam – diam. Hari – hari setelah itu, benar saja aku selalu diberikan vitamin, katanya sih karena aku sibuk dan aku butuh banget vitamin biar gak sakit. Rasanya senang sekali bisa dicintai sebegitu dalamnya.

Teruntuk siapapun yang sedang merasa putus asa, coba lihat kembali di sekitar kalian, pasti ada yang menyayangi kalian begitu dalam dan berusaha membuat kalian merasa baik – baik saja meskipun dengan cara yang tidak dapat kalian lihat, tapi kalian akan merasakannya dengan begitu jelas.

“Nothing else matters, really. Nothing else. Life is not about Netflix and chill, neither is it about money or success. Life is all about LOVE. Loving and being loved.” – Audrey Hepburn.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar