Aku mencintaimu dengan sangat sederhana, seperti halnya akar pohon membutuhkan air untuk tetap hidup, meskipun terkadang cahaya berlebihan yang diberikan oleh matahari terhadap pohon akan membuatnya mati, tetapi pohon juga tetap membutuhkan matahari. Mencintaimu cukup sesederhana itu, bahkan bisa lebih sederhana lagi dari itu.
Pagi itu aku merasa kamu lah matahariku, kamu datang dengan cahaya silau yang membuat mataku terpukau. Aku bukan sedang merayu, tapi sungguh, kamulah seakan matahari hangat yang aku cari selama ini. Mencintaimu tak perlu seperti rumus matematika yang butuh waktu lama untuk menyelesaikannya.
Awalnya ku kira untuk tetap bertahan dengan keinginanku untuk selalu bersamamu menjadi suatu hal yang sederhana juga, seperti mencintaimu. Namun ternyata semua tak sesederhana itu. Butuh keseriusan yang besar untuk tetap bertahan bersamamu, lebih tepatnya bertahan dalam ruang yang kuciptakan sendiri. Aku tidak cukup berani untuk mengungkapkannya padamu, ya mungkin aku pengecut yang selama ini sedang berlindung.
Katamu langit tetap setia pada matahari walaupun ia akan digantikan oleh bulan dan bintang, dan kamu juga sempat bertanya, jika bulan dan bintang lebih indah dari sebuah matahari lalu untuk apa langit tetap setia pada matahari?
Tapi menurutku kesetiaan bukanlah hal rumit yang selalu membayang – bayangi. Langit akan tetap selalu bersedia untuk matahari, apapun yang terjadi, sekalipun matahari akan lebih memilih pergi lebih awal ataupun tepat waktu. Ketahuilah bahwa senja tidak akan terlihat indah tanpa matahari. Senja yang katamau selalu hangat dan menawan, itu semua terjadi karena hadirnya matahari yang selalu melengkapi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar