Masih tentang putus asa, seperti yang sudah aku sampaikan pada tulisan kemarin, kalau aku pernah berada diposisi yang sejauh ini merupakan posisi terendah buat aku. Aku merasa kehilangan segalanya, bukan lagi materi, melainkan semangat. Semangat untuk bangun pagi mengejar mimpi, sampai akhirnya aku merasa bahwa aku tidak pantas. Kalau kata Marchella FP, penulis buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, api kecil yang membakar semangatku tuh sudah hilang. Terlebih aku merasa lingkunganku sangat tidak mendukungku, ya kasarnya sih mereka lebih menjatuhkanku.
Sampai akhirnya aku pun sadar, bahwa aku tidak
sendiri. Aku memiliki sosok laki – laki yang usahanya tidak pernah putus
untukku, terkadang aku memandangnya sebelah mata. Terkadang lagi aku tidak
begitu menghargai usahanya, tapi tidak selalu seperti itu. Aku lebih sering
tersadar bahwa dia melakukan itu tulus untukku, ia rela bangun pagi hanya untuk
memberiku semangat yang aku butuhkan dan merelakan waktunya untuk sekedar
mengantarkanku ke kampus. Dia juga rela menjemputku walaupun sebenarnya dia
sedang lelah. Dan dia juga yang terkadang mengembalikan api – api kecil yang
mampu membakar semangatku lagi.
Dia tidak pernah berkata “kamu kayaknya ga cocok deh
disana”, melainkan dia selalu berkata, “gak ada yang gak bisa, hanya saja kamu
tidak mencobanya dengan sepenuh hati”. Iya, selalu seperti itu, sampai
terkadang aku pun muak. Dan juga ketika aku jatuh dia selalu berkata, “gak apa –
apa, kita bisa coba lagi besok”. Sederhana sih, tapi itulah api yang ku
butuhkan untuk membakar kembali semangatku yang hilang.
Aku berkata seperti itu bukan semata – mata dia
merupakan orang yang tidak pernah menyerah. Dia pun juga manusia, ada rasa
lelah, terkadang mengeluh, dan menangis. Namun ia selalu mengesampingkan itu
semua hanya untuk membuatku bangkit. Baginya semangatku merupakan hal
terpenting, baginya pula aku harus hidup lebih bahagia dibandingkan dengan dia.
Memang sih terkadang aku tidak setuju, tapi itulah manusia, terkadang merasa
tidak bersyukur. Kita sama – sama pernah jatuh, kok. Kita juga sama – sama pernah
merasakan menjadi “manusia”, namun satu yang kita butuhkan yaitu untuk saling
menjadi pengingat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar