Senin, 25 Februari 2019

Mencintai Sendirian?


Mencintai sendirian? Mungkin sudah banyak orang merasakannya. Bukan banyak lagi, tapi seharusnya setiap orang pernah merasakan ini. Aku pun begitu. Cerita ini dimulai ketika aku masih duduk di kelas 3 SMA, saat itu aku menyukai laki – laki yang aku tidak menyangka kalau aku bisa menyukainya. Hanya menyukai ya, bukan mencintai.
Aku kagum padanya, dengan kepribadiannya yang bisa dibilang apa adanya. Dia sangat natural dan sama sekali tidak dibuat – buat. Aku menyukai kesederhanaan yang ia miliki. Aku juga menyukai caranya mempresentasikan dirinya secara tidak langsung dalam komunikasi yang ia lakukan pada setiap teman – temannya.
Jelas saja aku tidak menyukainya semata – mata begitu saja, aku menyukainya krena ulahnya yang mengakibatkan aku menjadi suka padanya. Memang sih awal dari hubungan kita aku duluan yang memulainya, aku mengirim pesan melalui aplikasi LINE hanya sekedar bertanya yang tidak penting. Namun semenjak dari situ kami sering berkomunikasi melalui chat LINE. Tapi aku berani bersumpah, saat itu aku tidak sedang menjalankan trik “modus” untuk mendekatinya.
Setelah itu kami lebih sering berkomunikasi hanya via chat, dan jika bertemu langsung aku dan dia bersikap seakan kami tak pernah melakukan komunikasi apapun melalui chat padahal kami saat itu sangat rutin berkomunikasi.
Sebenarnya aku juga tidak mengerti, saat itu aku merasakan bahwa ada harapan yang mendekatiku perlahan. Aku merasa bahwa aku dan dia mungkin saja memiliki ketertarikan satu sama lain, namun kami saling diam dan tidak mau saling memberitahu. Ternyata aku salah.
Dia mencintai wanita lain, dia mencintai wanita yang sudah menjadi incarannya sejak kelas 1 SMA, ia baik kepadaku mungkin hanya semata – mata untuk menghibur dirinya karena wanita yang ia cintai sudah memiliki kekasih. Ya, aku memang bodoh. Aku memang bodoh sudah berharap padanya, padahal aku jelas – jelas mengetahui bahwa dia mencintai orang lain, dan itu bukan aku.
Aku coba untuk menghilang dari kehidupannya. Aku merasa seperti bintang yang mulai meredup karena terkalahkan dengan bintang – bintang yang lebih indah. Aku merasa aku seperti boneka yang selama ini hanya digunakan olehnya untuk menghibur dirinya ketika ia sedang lelah dengan perjuangannya. Aku memang bodoh.
Untuk mencintainya aku tidak perlu apa – apa, tapi untuk melupakannya aku butuh segalanya. Bagaimana bisa aku mencintai orang yang sama sekali tidak pernah menoleh ke arahku. Bagaimana bisa aku mencintai orang yang bahkan menganggapku hanya angin lalu. Sungguh, aku merasa bodoh, tapi aku yakin dia pun akan merasa bodoh juga. Bagaimana tidak, dia mencintai wanita yang sudah memiliki kekasih.
Aku lelah dalam situasi ini, aku lelah jika aku harus menerus menjadi bayang – bayang di matanya. Aku yang tidak akan pernah menjadi apa – apa, untuk apa aku harus bertahan? Aku memilih pergi, bukan karena aku menyerah, melainkan aku yang tidak sadar kalau aku memang sudah kalah sejak awal.

Selasa, 19 Februari 2019

Loving and being loved

Pernah gak sih kalian ngerasain rasanya dicintai? Diberikan perhatian – perhatian kecil yang terkadang kalian sepelekan namun sebenarnya begitu berarti. Aku benar – benar bersyukur karena aku masih bisa merasakan bagaimana rasanya dicintai. Kata ibuku sih, salah satu tips bahagia itu bisa merasa dicintai oleh orang – orang sekitar. Maka dari itu ibuku selalu mengajarkanku bersikap baik agar aku dicintai oleh orang – orang disekitarku. Jika kalian berpikir carita ini akan berisi tentang aku dan seorang laki – laki yang tidak lain adalah kekasihku, ya mohon maaf aja nih kalian salah.

Cerita ini bermula ketika aku sudah mulai muak dengan segala masalah yang ada di rumahku, aku memilih pergi dari rumah dan tinggal di rumah tanteku yang jaraknya cukup jauh. Aku melakukan ini jelas dengan izin orantua ku, aku tidak melakukannya dengan cara kabur ya. Awalnya alasan aku lebih memilih tinggal disini adalah karena jarak yang lebih dekat dengan kampusku, aku bisa lebih mengirit tenaga dan juga ongkos, karena rumahku cukup jauh dari kampus.

Awalnya aku merasa tidak begitu betah tinggal disini, aku merasa aku seperti tinggal di kosan, seperti teman – temanku yang lain. Bahkan aku merasa lebih parah, jika teman – temanku yang tinggal dikosannya bisa melakukan apa saja, seperti pulang malam, bawa teman ke kosan. Namun aku tidak, yang aku rasakan saat itu adalah aku sangat tidak betah, aku tidak bisa melakukan hal – hal yang biasanya aku lakukan, seperti pulang malam, bawa teman ke rumah, teriak – teriak sesuka hati, dan juga membuat makanan apapun yang kuinginkan, jika aku mau.

Namun jujur saja untuk pulang ke rumahku rasanya juga bukan pilihan yang baik saat itu, aku merasa kuliahku akan lebih tidak terurus jika aku pulang ke rumah. Bukan karena aku memiliki masalah dengan seisi rumahku, aku hanya sedang tidak merasa nyaman juga di rumahku.

Rasanya bimbang sekali, aku tidak merasa betah berada di kedua rumah yang sudah menerimaku dengan baik. Aku mulai berpikir, “lalu dimana seharusnya aku tinggal?”. Karena disini aku merasa bahwa aku hidup seperti di gua, yang jika sudah sampai langsung masuk kamar, dan keluar hanya untuk mandi dan berangkat kuliah.

Namun suatu hari aku mendengar suara – suara kecil yang saling bersahutan. Kurang lebih seperti ini percakapannya,

“Sisi udah pulang mi?” ya, itu suara om ku yang kudengar saat aku sedang membersihkan badanku di kamar mandi.

“Udah tuh lagi mandi,” dijawab oleh tante ku yang saat itu epertinya berada tidak jauh dari om ku.

“Udah makan belum dia? Belakangan ini dia pulang malam, coba mami tanya sehat gak dia, takut sakit pulang malam terus, soalnya cuaca lagi gak bagus juga”.

Sejenak aku terdiam. Jujur tidak tahu apa yang aku rasakan saat itu, rasanya seperti senang, namun juga sedih. Aku merasa selama ini aku hanya seperti manusia yang hidup di gua, aku hanya berdiam diri di kamar. Bahkan aku sempat merasa bahwa om dan tanteku menganggap tidak menerima kehadiranku, karena aku hanya bertemu mereka ketika malam hari dan itupun hanya sekedar sedikit menyapa basa basi saja.

Namun aku benar – benar tidak menyangka bahwa disaat aku sedang putus asa, bahkan aku merasa tidak ada tempat lagi yang mampu membuatku nyaman ternyata masih ada orang yang menyayangiku begitu dalam. Mereka memberikan kasih sayangnya padaku meskipun dengan cara yang aku tidak tahu sedikitpun, mereka memperhatikanku diam – diam. Hari – hari setelah itu, benar saja aku selalu diberikan vitamin, katanya sih karena aku sibuk dan aku butuh banget vitamin biar gak sakit. Rasanya senang sekali bisa dicintai sebegitu dalamnya.

Teruntuk siapapun yang sedang merasa putus asa, coba lihat kembali di sekitar kalian, pasti ada yang menyayangi kalian begitu dalam dan berusaha membuat kalian merasa baik – baik saja meskipun dengan cara yang tidak dapat kalian lihat, tapi kalian akan merasakannya dengan begitu jelas.

“Nothing else matters, really. Nothing else. Life is not about Netflix and chill, neither is it about money or success. Life is all about LOVE. Loving and being loved.” – Audrey Hepburn.

Senin, 11 Februari 2019

Brendon Urie dan Panic! At The Disco





Panic! At The Disco merupakan band rock asal Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat. Awal band ini dibuat pada tahun 2004, ketika para anggotanya yakni, Ryan RossSpencer Smith, Brent Wilson dan Brendon Urie masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Setahun kemudian yaitu pada tahun 2005 band ini mulai merilis untuk pertama kalinya album studio debut, “A Fever You Can’t Sweat Out”, dengan single pertamanya yaitu “I Write Sins Not Tragedies”. Lalu singlenya pun laris dipasaran, bahkan albumnya juga mendapatkan sertifikasi platinum ganda di Amerika Serikat.

Namun pada tahun 2006, Brent Wilson yang saat itu mengisi posisi sebagai bassis mengundurkan diri dari band saat sedang menjalani tur dunia mereka, dan posisi Brent langsung tergantikan oleh Jon Walker. Tetapi sayangnya pada tahun 2009, Jon Walker dan seorang gitaris Panic! At The Disco yaitu Ryan Ross memilih untuk mengundurkan diri dan meninggalkan Brendon Urie dan Spencer Smith.

Karena kedua anggotanya lebih memilih untuk hengkang maka Brendon dan Smith lebih memilih untuk tetap melanjutkan Panic! At The Disco sebagai duo. Lalu mereka merilis single dengan judul “New Perspective”. Tidak lama setelah itu akhirnya Brendon dan Smith memilih untuk merekrut anggota band baru agar mereka terasa lebih lengkap. Dengan begitu mereka akhirnya memutuskan untuk mengisi posisi bassis dengan Dallon Weekes.

Awalnya Weekes hanyalah anggota tur saja, yang artinya ia hanya menemani ketika Brendon dan Smith sedang melangsungkan turnya. Lalu akhirnya pada tahun 2010 Weekes dipilih untuk menjadi anggota resmi Panic! At The Disco menemani Brendon dan Smith.

Namun sangat disayangkan bahwa pada tahun 2015 Smith memilih untuk mengundurkan diri dari band tersebut setelah tur terakhirnya pada tahun 2013. Ia mengundurkan diri karena masalah kesehatannya yang tidak stabil akibat terlalu banyak mengonsumsi alcohol. Sedangkan tidak lama setelah Smith memilih untuk keluar, Weekes pun memutuskan untuk ikut mengundurkan diri dan hanya menjadi anggota band tur, yang mana hanya akan menjadi anggota tambahan saat mereka sedang menjalankan tur. Dan dengan begitu Panic! At The Disco saat ini hanya menyisakan Brendon Urie sebagai satu – satunya anggota band.

Nama Brendon Urie memang besar dari band Panic! At The Disco, dan tentunya dengan kesuksesan – kesuksesan yang didapatkan oleh band tersebut membuat Brendon Urie semakin terkenal sebagai salah satu musisi rock.

Brendon Boyd Urie sendiri lahir pada tanggal 12 April 1987, di St. George, Utah. Pada bulan September 2011 ia bertunangan dengan Sarah Orzechowski, dan baru menikah pada 27 April 2013, dan ia juga merupakan anak termuda di keluarganya.

Meski Brendon Urie hanya menjalankan bandnya dengan dirinya sebagai satu – satunya anggota di dalam band tersebut namun ia tetap melakukan perjalanan tur. Brendon juga mulai lebih banyak diminati dan dikenal lagi karena di beberapa turnya ia menyanyikan salah satu lagu yang sangat terkenal yaitu Bohemian Rhapsody milik band Queen.

Ia dianggap sebagai satu – satunya musisi yang mampu menyanyikan Bohemian Rhapsody dengan sempurna seperti Freddie, vokalis band Queen, walaupun sebenarnya ia memiliki warna vokal yang berbeda dengan Freddie. Dan dengan begitu ia tetap hidup sebagai Panic! At The Disco dan tetap menjalankan tur di beberapa Negara.

Penulis: Caecilia Wanda Marisa
Sumber: Wikipedia.

Rabu, 06 Februari 2019

My Little Fire



Masih tentang putus asa, seperti yang sudah aku sampaikan pada tulisan kemarin, kalau aku pernah berada diposisi yang sejauh ini merupakan posisi terendah buat aku. Aku merasa kehilangan segalanya, bukan lagi materi, melainkan semangat. Semangat untuk bangun pagi mengejar mimpi, sampai akhirnya aku merasa bahwa aku tidak pantas. Kalau kata Marchella FP, penulis buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, api kecil yang membakar semangatku tuh sudah hilang. Terlebih aku merasa lingkunganku sangat tidak mendukungku, ya kasarnya sih mereka lebih menjatuhkanku.

Sampai akhirnya aku pun sadar, bahwa aku tidak sendiri. Aku memiliki sosok laki – laki yang usahanya tidak pernah putus untukku, terkadang aku memandangnya sebelah mata. Terkadang lagi aku tidak begitu menghargai usahanya, tapi tidak selalu seperti itu. Aku lebih sering tersadar bahwa dia melakukan itu tulus untukku, ia rela bangun pagi hanya untuk memberiku semangat yang aku butuhkan dan merelakan waktunya untuk sekedar mengantarkanku ke kampus. Dia juga rela menjemputku walaupun sebenarnya dia sedang lelah. Dan dia juga yang terkadang mengembalikan api – api kecil yang mampu membakar semangatku lagi.

Dia tidak pernah berkata “kamu kayaknya ga cocok deh disana”, melainkan dia selalu berkata, “gak ada yang gak bisa, hanya saja kamu tidak mencobanya dengan sepenuh hati”. Iya, selalu seperti itu, sampai terkadang aku pun muak. Dan juga ketika aku jatuh dia selalu berkata, “gak apa – apa, kita bisa coba lagi besok”. Sederhana sih, tapi itulah api yang ku butuhkan untuk membakar kembali semangatku yang hilang.

Aku berkata seperti itu bukan semata – mata dia merupakan orang yang tidak pernah menyerah. Dia pun juga manusia, ada rasa lelah, terkadang mengeluh, dan menangis. Namun ia selalu mengesampingkan itu semua hanya untuk membuatku bangkit. Baginya semangatku merupakan hal terpenting, baginya pula aku harus hidup lebih bahagia dibandingkan dengan dia. Memang sih terkadang aku tidak setuju, tapi itulah manusia, terkadang merasa tidak bersyukur. Kita sama – sama pernah jatuh, kok. Kita juga sama – sama pernah merasakan menjadi “manusia”, namun satu yang kita butuhkan yaitu untuk saling menjadi pengingat.

Selasa, 05 Februari 2019

Kita Pantas Untuk Bahagia


Putus asa, aku pernah merasakan apa yang biasa orang kenal dengan “putus asa”. Aku hampir termakan oleh situasi itu, semua kemungkinan terburuk selalu muncul di otakku seakan sudah tidak akan pernah ada lagi jalan keluarnya. Aku juga yakin semua orang pasti pernah merasakan yang namanya putus asa, bagiku putus asa tidak memiliki takaran seberapa besar atau kecil layaknya makanan atau minuman. Semua putus asa yang pernah dirasakan oleh setiap orang sama rata, karena cobaan datang selalu sesuai dengan kemampuan masing – masing orang.

Banyak hal yang membuatku merasa putus asa, salah satunya ialah perasaan bahwa “aku tidak pantas”. Mungkin bagi beberapa orang kalimat tersebut terdengar biasa, namun tidak denganku. Banyak kalimat menyedihkan lainnya yang akan selalu melekat di ingatanku, contoh kecilnya seperti,
“Kamu bisanya apa sih? Gak ada?”
“Kamu tuh gak pantes ada diposisi itu”
“Sadar dong kamu siapa”
“Kamu Cuma bisa mengerjakan dengan asal – asalan seperti ini? Lantas untuk apa ini?” padahal saat itu aku sudah berusaha melakukan yang terbaik yang aku bisa, namun aku tetap dianggap tidak bisa apa – apa.
Lalu satu kalimat yang paling melekat di dalam ingatanku adalah,
“Sadar diri deh, anak brokenhome kayak kamu gak pantas bahagia”.

Iya, tentu saja aku runtuh saat itu. Aku merasa tidak pantas untuk hidup, bahkan apa yang sudah kulakukan dengan sepenuh hati tetap tidak dianggap dan disepelekan oleh mereka. Tapi, untuk aku dan kalian semua yang mungkin merasakan hal seperti aku, kita tidak boleh terlarut dalam perkataan orang lain yang mampu menjatuhkan kita. Mau sampai kapan kita hidup hanya terus memuaskan ekspektasi orang lain akan diri kita. Kalau merasa sudah tidak pantas diposisi itu ya pergi, kalau memang sudah tidak bisa diupayakan dengan baik. Untuk apa aku dan kalian bertahan hanya untuk menunjukan mereka bahwa aku mampu tetapi aku sendiri tidak bahagia ada disana. Ingat, yang terpenting itu hidup bahagia. Untuk menjadi bahagia kita tidak perlu mendengarkan kata mereka yang hanya mampu menjatuhkan kita dan membuat kita berada diposisi itu itu aja. Cari posisi baru yang menurut kamu kamu pantas berada disana, tentunya kamu juga harus bahagia disana.

Kita hidup tidak untuk memenuhi ekpektasi setiap orang, kita hidup untuk kebahagiaan kita sendiri. Karena bahagia itu priceless, dengan kalian bahagia kalian akan menjadi pribadi yang lebih bersyukur, dibandingkan hanya dengan berusaha memenuhi ekspektasi orang lain yang bahkan mereka pun tidak menghidupimu, tidak memberi kamu nyawa untuk kamu tetap merasa hidup. Singkirkanlah orang – orang yang mampu membuatmu jatuh, karena kunci untuk keluar dari putus asa adalah bahagia. Coba cari kebahagiaanmu di tempat lain, cari lingkungan yang membuatmu bangkit bukan jatuh. Cari lingkungan yang membangunmu bukan meruntuhkanmu. Karena kita berhak bahagia!

Minggu, 03 Februari 2019

Review Elshe Skin

HIIIII, malam ini ga nulis curhatan dulu yaa soalnya lagi  mood buat review nih. Sebenernya aku penggila skincare banget, doyan nyobain skincare sana sini. Mulai dari skincare produk lokal sampai produk korea yang lagi hits sekalipun. Tapi kali ini bukan mau review skincare korea yang super duper banyak macamnya, tenang aja ini lokal punya kok yang bakalan aku review. Eits, tapi sebelumnya kenalin dulu yuk jenis muka aku, siapa tau ada yang jenisnya sama dan bisa cobain produk yang sama.

Jadi kulitku itu termausk kulit yang berminyak, sangat berminyak. Kebanyakan orang menghasilkan minyak Cuma di T zonenya aja kan (buat yang ga tau T zone boleh google ya soalnya agak susah juga aku jelasinnya hehe). Tapi berbeda dengan muka ku, hampir keseluruhan muka ku ini berminyak dan yang lebih parahnya adalah mudah bruntusan, terutama kalau pake makeup atau produk skincare lainnya yang ga cocok. Sebenarnya kebanyakan orang punya masalah kulit itu jerawatan ya, aku sendiri lebih ke bruntusan daripada jerawatan. Jerawat hanya timbul ketika aku lagi datang tamu bulanan aja hehe

Alasan aku memilih Elshe Skin sebagai solusi dari kulit wajahku adalah karena aku sudah lelah nyobain produk sana sini yang akhirnya terkadang ga memuaskan. Terlebih kulitku sering sekali terpapar sinar matahari dan terkena bahan kimia dari makeup, jadi akhirnya aku putuskan untuk memilih konsultasi dengan dokter muka yang tentunya obatnya sudah pasti akan cocok sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh kulitku.

Elshe skin sendiri merupakan skincare asal Indonesia yang sudah berdiri selama 5 tahun.
Saat aku melakukan konsultasi online dengan dokter dari Elshe Skin akhirnya aku dipastikan memiliki wajah yang cenderung berkomedo, jika tidak dicegah maka komedo – komedo yang menumpuk dimuka ku akan berubah menjadi jerawat yang artinya sangat amat tidak bagus. Akhirnya aku diberikan serangkaian produk untuk jerawat karena produk – produk tersebut juga memiliki kegunaan untuk mencegah timbulnya jerawat. Produk yang aku dapatkan dari Elshe Skin antara lain:

1. ACNE CLEANSING WASH
Acne cleansing wash merupakan sabun cuci muka yang dikeluarkan oleh Elshe Skin khusus untuk kulit berjerawat. Teksturnya sedikit seperti gel cleanser dan aromanya benar – benar terasa aroma obat yang cukup kuat. Busa yang dihasilkan oleh cleansing ini tidak begitu banyak sehingga tidak terasa seperti sedang cuci muka yang benar benar bersih. Namun setelah dibilas barubterasa bersih wajahnya.

image source: instagram.com/elsheskin


2. ACNE REFRESH TONER
Yang kedua aku dapat toner yang juga dikhususkan untuk kulit berjerawat, toner ini sedikit berbeda dari toner yang biasanya aku gunakan. Toner ini tidak boleh diusap ke muka melainkan hanya ditepuk tepuk ringan saja ke wajah. Aromanya lagi lagi seperti aroma obat yang sangat kuat. In my opinion, toner ini sedikit terasa perih di beberapa bagian mukaku. Mungkin karena kandungannya yang begitu kuat untuk membunuh bakteri – bakteri penyebab jerawat, tetapi tidak begitu masalah.

image source: instagram.com/elsheskin



3. DAILY PROTECTION FOR ACNE
Untuk pelembab siang hari aku masih dikasih varian yang sama oleh dokternya yaitu untuk jerawat. Pelembabnya sendiri tidak memiliki bau sekuat sabun cuci mukanya dan tonernya, namun tetap berasa aromanya tidak begitu sedap. Ukuran dari pelembab ini cukup kecil, hanya 15g. Jadi aku pakainya sangat sedikit dan secukupnya saja. Teksturnya sendiri masih seperti pelembab pada umumnya, tidak begitu cepat kering, namun sudah ada kandungan sunscreen di dalamnya. Jadi unutuk yang suka malas pakai sunscreen tidak perlu khawatir lagi.


4. CREAM KOMEDO
Kalau cream komedo ini memiliki aroma yang tidak jauh berbeda dengan pelembabnya. Cream ini hanya boleh digunakan untuk malam hari sebelum tidur dan dioleskannya hanya ke bagian yang ada komedo atau jerawatnya. Terasa sedikit perih juga di beberapa bagian muka.


Nah itu dia tadi produk – produk yang lagi aku pakai untuk healing kulit muka ku yang sekarang sudah sangat sangat hancur. So far, aku bener – bener ngerasa cocok banget pakai produk – produk tersebut. Aku baru memakainya sekitar 1 minggu namun hasil yang diberikan sudah begitu terlihat. Bruntusak kecil – kecilku yang tadinya banyak banget kalau diraba ( soalnya kalau dilihat gak begitu terlihat saking kecilnya ) sudah hilang dan bener bener tidak merasa sedang melakukan pengobatan. Harga dari Elshe Skin pun termasuk murah, lho. Waktu pertama membeli paket perawatan Elshe Skin aku hanya perlu mengeluarkan uang sebesar 250 ribu rupiah. Jadi buat kalian yang mau perawatan muka ke dokter tanpa harus mahal bisa coba konsultasi ke Elshe Skin aja, tanpa harus keluar rumah dan tidak perlu membuang banyak biaya. Sekali lagi, aku bukan lagi promosi


Sekian dulu ya reviewnya semoga pada suka dan juga bermanfaat buat kalian yang masih bimbang mau memilih skincare apa untuk wajah kalian. Bye!!

Sabtu, 02 Februari 2019

Ruang Yang Kuciptakan Sendiri

Langit selalu cerah bahkan setiap pagi, melukiskan wajahmu didalamnya. Banyak cerita yang seharusnya awan ceritakan pada langit, namun sayang terkadang kabut menyerobot kesempatan itu. Aku mencintaimu seperti langit, yang selalu bersedia di sana untuk matahari. Meskipun kita tau bahwa matahari akan tergantikan dengan bulan serta bintang – bintang.

 Aku mencintaimu dengan sangat sederhana, seperti halnya akar pohon membutuhkan air untuk tetap hidup, meskipun terkadang cahaya berlebihan yang diberikan oleh matahari terhadap pohon akan membuatnya mati, tetapi pohon juga tetap membutuhkan matahari. Mencintaimu cukup sesederhana itu, bahkan bisa lebih sederhana lagi dari itu.

Pagi itu aku merasa kamu lah matahariku, kamu datang dengan cahaya silau yang membuat mataku terpukau. Aku bukan sedang merayu, tapi sungguh, kamulah seakan matahari hangat yang aku cari selama ini. Mencintaimu tak perlu seperti rumus matematika yang butuh waktu lama untuk menyelesaikannya.

Awalnya ku kira untuk tetap bertahan dengan keinginanku untuk selalu bersamamu menjadi suatu hal yang sederhana juga, seperti mencintaimu. Namun ternyata semua tak sesederhana itu. Butuh keseriusan yang besar untuk tetap bertahan bersamamu, lebih tepatnya bertahan dalam ruang yang kuciptakan sendiri. Aku tidak cukup berani untuk mengungkapkannya padamu, ya mungkin aku pengecut yang selama ini sedang berlindung.

Katamu langit tetap setia pada matahari walaupun ia akan digantikan oleh bulan dan bintang, dan kamu juga sempat bertanya,  jika bulan dan bintang lebih indah dari sebuah matahari lalu untuk apa langit tetap setia pada matahari?

Tapi menurutku kesetiaan bukanlah hal rumit yang selalu membayang – bayangi. Langit akan tetap selalu bersedia untuk matahari, apapun yang terjadi, sekalipun matahari akan lebih memilih pergi lebih awal ataupun tepat waktu. Ketahuilah bahwa senja tidak  akan terlihat indah tanpa matahari. Senja yang katamau selalu hangat dan menawan, itu semua terjadi karena hadirnya matahari yang selalu melengkapi.