Pertama – tama saya ingin memperkenalkan diri (lagi, tapi sedikit lebih dalam), mungkin tidak terlalu penting tapi kata orang “tak kenal maka tak sayang”, makanya harus kenal saya dulu siapa tau bisa sayang. Nama saya Caecilia Wanda Marisa, bagi saya itu bukan hanya sekedar nama, melainkan memiliki kekuatan tersendiri di dalamnya, ya walaupun orangtua saya tidak memberitahu secara jelas apa maksud dari nama saya tersebut. Meski begitu saya yakin kedua orangtua saya menyelipkan makna baik di dalam nama saya, walaupun saya juga tidak tahu pasti apa itu. Lalu saya memiliki satu kakak laki - laki, nama depan kami tidak jauh berbeda, saya Caecilia dan dia Caesar. Selisih umur kami hanya 4 tahun, tidak terlalu jauh untuk ukuran kakak beradik, jadi kami sangat sering bertengkar. Saya juga tidak mengerti mengapa saya harus hidup bersama makhluk menyebalkan seperti dia. Namun pertengkaran kami yang seakan sudah menjadi rutinitassehari – hari itu seketika berakhir setelah orangtua kami berpisah, kami harus mulai merangkul satu sama lain, hal tersebutlah yang mungkin membuat kami seketika menjadi seperti kakak beradik pada umumnya.
Sehari - hari saya menyibukan diri dengan menjadi seorang mahasiswa di salah satu universitas swasta di Tangerang Selatan, saya bukan termasuk mahasiswa yang pintar dan juga rajin, saya hanya berusaha melakukan yang terbaik dengan semaksimal mungkin. Terkadang saya merasa risih karena dengan keberadaan kakak saya, menurut saya ia terlalu berbakat sehingga sangat sering dipuji oleh keluarga saya. Maklum lah darah seni dari Ayah saya menurun ke kakak saya, jadi bakatnya selalu menjadi perbincangan ketika kami sedang kumpul keluarga.
Berbeda dengan kakak saya yang sibuk di dunia seni. Sebenarnya saya tidak begitu menyukai jurusan yang saya ambil saat ini, namun saya harus tetap melanjutkan apa yang sudah saya mulai sejak awal. Dulu saya memiliki cita – cita menjadi sastrawan, seperti Sapardi Djoko Damono. Bisa menulis puisi dan sajak dengan indah dan mampu dinikmati oleh banyak orang sebagai obat hati mereka. Namun apalah daya, orangtua saya tidak mengizinkan saya mengambil universitas di luar kota yang memiliki pendidikan sastra yang bagus. Saya sebagai anak yang memiliki kewajiban untuk mematuhi orangtua, jadi saya hanya bisa nurut apa yang diperintahkan oleh orangtua saya. Meskipun saya saat ini berada di jurusan yang saya tidak suka tetapi saya tetap tidak ingin menyerah untuk menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Semoga dengan begitu saya mampu membuat kedua orangtua saya menjadi bangga terhadap saya, setidaknya tidak membuat malu.