Senin, 25 Februari 2019

Mencintai Sendirian?


Mencintai sendirian? Mungkin sudah banyak orang merasakannya. Bukan banyak lagi, tapi seharusnya setiap orang pernah merasakan ini. Aku pun begitu. Cerita ini dimulai ketika aku masih duduk di kelas 3 SMA, saat itu aku menyukai laki – laki yang aku tidak menyangka kalau aku bisa menyukainya. Hanya menyukai ya, bukan mencintai.
Aku kagum padanya, dengan kepribadiannya yang bisa dibilang apa adanya. Dia sangat natural dan sama sekali tidak dibuat – buat. Aku menyukai kesederhanaan yang ia miliki. Aku juga menyukai caranya mempresentasikan dirinya secara tidak langsung dalam komunikasi yang ia lakukan pada setiap teman – temannya.
Jelas saja aku tidak menyukainya semata – mata begitu saja, aku menyukainya krena ulahnya yang mengakibatkan aku menjadi suka padanya. Memang sih awal dari hubungan kita aku duluan yang memulainya, aku mengirim pesan melalui aplikasi LINE hanya sekedar bertanya yang tidak penting. Namun semenjak dari situ kami sering berkomunikasi melalui chat LINE. Tapi aku berani bersumpah, saat itu aku tidak sedang menjalankan trik “modus” untuk mendekatinya.
Setelah itu kami lebih sering berkomunikasi hanya via chat, dan jika bertemu langsung aku dan dia bersikap seakan kami tak pernah melakukan komunikasi apapun melalui chat padahal kami saat itu sangat rutin berkomunikasi.
Sebenarnya aku juga tidak mengerti, saat itu aku merasakan bahwa ada harapan yang mendekatiku perlahan. Aku merasa bahwa aku dan dia mungkin saja memiliki ketertarikan satu sama lain, namun kami saling diam dan tidak mau saling memberitahu. Ternyata aku salah.
Dia mencintai wanita lain, dia mencintai wanita yang sudah menjadi incarannya sejak kelas 1 SMA, ia baik kepadaku mungkin hanya semata – mata untuk menghibur dirinya karena wanita yang ia cintai sudah memiliki kekasih. Ya, aku memang bodoh. Aku memang bodoh sudah berharap padanya, padahal aku jelas – jelas mengetahui bahwa dia mencintai orang lain, dan itu bukan aku.
Aku coba untuk menghilang dari kehidupannya. Aku merasa seperti bintang yang mulai meredup karena terkalahkan dengan bintang – bintang yang lebih indah. Aku merasa aku seperti boneka yang selama ini hanya digunakan olehnya untuk menghibur dirinya ketika ia sedang lelah dengan perjuangannya. Aku memang bodoh.
Untuk mencintainya aku tidak perlu apa – apa, tapi untuk melupakannya aku butuh segalanya. Bagaimana bisa aku mencintai orang yang sama sekali tidak pernah menoleh ke arahku. Bagaimana bisa aku mencintai orang yang bahkan menganggapku hanya angin lalu. Sungguh, aku merasa bodoh, tapi aku yakin dia pun akan merasa bodoh juga. Bagaimana tidak, dia mencintai wanita yang sudah memiliki kekasih.
Aku lelah dalam situasi ini, aku lelah jika aku harus menerus menjadi bayang – bayang di matanya. Aku yang tidak akan pernah menjadi apa – apa, untuk apa aku harus bertahan? Aku memilih pergi, bukan karena aku menyerah, melainkan aku yang tidak sadar kalau aku memang sudah kalah sejak awal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar