Mencintai
sendirian? Mungkin sudah banyak orang merasakannya. Bukan banyak lagi, tapi
seharusnya setiap orang pernah merasakan ini. Aku pun begitu. Cerita ini
dimulai ketika aku masih duduk di kelas 3 SMA, saat itu aku menyukai laki –
laki yang aku tidak menyangka kalau aku bisa menyukainya. Hanya menyukai ya,
bukan mencintai.
Aku
kagum padanya, dengan kepribadiannya yang bisa dibilang apa adanya. Dia sangat
natural dan sama sekali tidak dibuat – buat. Aku menyukai kesederhanaan yang ia
miliki. Aku juga menyukai caranya mempresentasikan dirinya secara tidak
langsung dalam komunikasi yang ia lakukan pada setiap teman – temannya.
Jelas
saja aku tidak menyukainya semata – mata begitu saja, aku menyukainya krena
ulahnya yang mengakibatkan aku menjadi suka padanya. Memang sih awal dari
hubungan kita aku duluan yang memulainya, aku mengirim pesan melalui aplikasi LINE
hanya sekedar bertanya yang tidak penting. Namun semenjak dari situ kami sering
berkomunikasi melalui chat LINE. Tapi aku berani bersumpah, saat itu aku tidak
sedang menjalankan trik “modus” untuk mendekatinya.
Setelah
itu kami lebih sering berkomunikasi hanya via chat, dan jika bertemu langsung
aku dan dia bersikap seakan kami tak pernah melakukan komunikasi apapun melalui
chat padahal kami saat itu sangat rutin berkomunikasi.
Sebenarnya
aku juga tidak mengerti, saat itu aku merasakan bahwa ada harapan yang
mendekatiku perlahan. Aku merasa bahwa aku dan dia mungkin saja memiliki
ketertarikan satu sama lain, namun kami saling diam dan tidak mau saling
memberitahu. Ternyata aku salah.
Dia
mencintai wanita lain, dia mencintai wanita yang sudah menjadi incarannya sejak
kelas 1 SMA, ia baik kepadaku mungkin hanya semata – mata untuk menghibur dirinya
karena wanita yang ia cintai sudah memiliki kekasih. Ya, aku memang bodoh. Aku memang
bodoh sudah berharap padanya, padahal aku jelas – jelas mengetahui bahwa dia
mencintai orang lain, dan itu bukan aku.
Aku
coba untuk menghilang dari kehidupannya. Aku merasa seperti bintang yang mulai
meredup karena terkalahkan dengan bintang – bintang yang lebih indah. Aku merasa
aku seperti boneka yang selama ini hanya digunakan olehnya untuk menghibur dirinya
ketika ia sedang lelah dengan perjuangannya. Aku memang bodoh.
Untuk
mencintainya aku tidak perlu apa – apa, tapi untuk melupakannya aku butuh
segalanya. Bagaimana bisa aku mencintai orang yang sama sekali tidak pernah
menoleh ke arahku. Bagaimana bisa aku mencintai orang yang bahkan menganggapku
hanya angin lalu. Sungguh, aku merasa bodoh, tapi aku yakin dia pun akan merasa
bodoh juga. Bagaimana tidak, dia mencintai wanita yang sudah memiliki kekasih.
Aku
lelah dalam situasi ini, aku lelah jika aku harus menerus menjadi bayang – bayang
di matanya. Aku yang tidak akan pernah menjadi apa – apa, untuk apa aku harus
bertahan? Aku memilih pergi, bukan karena aku menyerah, melainkan aku yang tidak
sadar kalau aku memang sudah kalah sejak awal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar