Senin, 11 Februari 2019

Brendon Urie dan Panic! At The Disco





Panic! At The Disco merupakan band rock asal Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat. Awal band ini dibuat pada tahun 2004, ketika para anggotanya yakni, Ryan RossSpencer Smith, Brent Wilson dan Brendon Urie masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Setahun kemudian yaitu pada tahun 2005 band ini mulai merilis untuk pertama kalinya album studio debut, “A Fever You Can’t Sweat Out”, dengan single pertamanya yaitu “I Write Sins Not Tragedies”. Lalu singlenya pun laris dipasaran, bahkan albumnya juga mendapatkan sertifikasi platinum ganda di Amerika Serikat.

Namun pada tahun 2006, Brent Wilson yang saat itu mengisi posisi sebagai bassis mengundurkan diri dari band saat sedang menjalani tur dunia mereka, dan posisi Brent langsung tergantikan oleh Jon Walker. Tetapi sayangnya pada tahun 2009, Jon Walker dan seorang gitaris Panic! At The Disco yaitu Ryan Ross memilih untuk mengundurkan diri dan meninggalkan Brendon Urie dan Spencer Smith.

Karena kedua anggotanya lebih memilih untuk hengkang maka Brendon dan Smith lebih memilih untuk tetap melanjutkan Panic! At The Disco sebagai duo. Lalu mereka merilis single dengan judul “New Perspective”. Tidak lama setelah itu akhirnya Brendon dan Smith memilih untuk merekrut anggota band baru agar mereka terasa lebih lengkap. Dengan begitu mereka akhirnya memutuskan untuk mengisi posisi bassis dengan Dallon Weekes.

Awalnya Weekes hanyalah anggota tur saja, yang artinya ia hanya menemani ketika Brendon dan Smith sedang melangsungkan turnya. Lalu akhirnya pada tahun 2010 Weekes dipilih untuk menjadi anggota resmi Panic! At The Disco menemani Brendon dan Smith.

Namun sangat disayangkan bahwa pada tahun 2015 Smith memilih untuk mengundurkan diri dari band tersebut setelah tur terakhirnya pada tahun 2013. Ia mengundurkan diri karena masalah kesehatannya yang tidak stabil akibat terlalu banyak mengonsumsi alcohol. Sedangkan tidak lama setelah Smith memilih untuk keluar, Weekes pun memutuskan untuk ikut mengundurkan diri dan hanya menjadi anggota band tur, yang mana hanya akan menjadi anggota tambahan saat mereka sedang menjalankan tur. Dan dengan begitu Panic! At The Disco saat ini hanya menyisakan Brendon Urie sebagai satu – satunya anggota band.

Nama Brendon Urie memang besar dari band Panic! At The Disco, dan tentunya dengan kesuksesan – kesuksesan yang didapatkan oleh band tersebut membuat Brendon Urie semakin terkenal sebagai salah satu musisi rock.

Brendon Boyd Urie sendiri lahir pada tanggal 12 April 1987, di St. George, Utah. Pada bulan September 2011 ia bertunangan dengan Sarah Orzechowski, dan baru menikah pada 27 April 2013, dan ia juga merupakan anak termuda di keluarganya.

Meski Brendon Urie hanya menjalankan bandnya dengan dirinya sebagai satu – satunya anggota di dalam band tersebut namun ia tetap melakukan perjalanan tur. Brendon juga mulai lebih banyak diminati dan dikenal lagi karena di beberapa turnya ia menyanyikan salah satu lagu yang sangat terkenal yaitu Bohemian Rhapsody milik band Queen.

Ia dianggap sebagai satu – satunya musisi yang mampu menyanyikan Bohemian Rhapsody dengan sempurna seperti Freddie, vokalis band Queen, walaupun sebenarnya ia memiliki warna vokal yang berbeda dengan Freddie. Dan dengan begitu ia tetap hidup sebagai Panic! At The Disco dan tetap menjalankan tur di beberapa Negara.

Penulis: Caecilia Wanda Marisa
Sumber: Wikipedia.

Rabu, 06 Februari 2019

My Little Fire



Masih tentang putus asa, seperti yang sudah aku sampaikan pada tulisan kemarin, kalau aku pernah berada diposisi yang sejauh ini merupakan posisi terendah buat aku. Aku merasa kehilangan segalanya, bukan lagi materi, melainkan semangat. Semangat untuk bangun pagi mengejar mimpi, sampai akhirnya aku merasa bahwa aku tidak pantas. Kalau kata Marchella FP, penulis buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, api kecil yang membakar semangatku tuh sudah hilang. Terlebih aku merasa lingkunganku sangat tidak mendukungku, ya kasarnya sih mereka lebih menjatuhkanku.

Sampai akhirnya aku pun sadar, bahwa aku tidak sendiri. Aku memiliki sosok laki – laki yang usahanya tidak pernah putus untukku, terkadang aku memandangnya sebelah mata. Terkadang lagi aku tidak begitu menghargai usahanya, tapi tidak selalu seperti itu. Aku lebih sering tersadar bahwa dia melakukan itu tulus untukku, ia rela bangun pagi hanya untuk memberiku semangat yang aku butuhkan dan merelakan waktunya untuk sekedar mengantarkanku ke kampus. Dia juga rela menjemputku walaupun sebenarnya dia sedang lelah. Dan dia juga yang terkadang mengembalikan api – api kecil yang mampu membakar semangatku lagi.

Dia tidak pernah berkata “kamu kayaknya ga cocok deh disana”, melainkan dia selalu berkata, “gak ada yang gak bisa, hanya saja kamu tidak mencobanya dengan sepenuh hati”. Iya, selalu seperti itu, sampai terkadang aku pun muak. Dan juga ketika aku jatuh dia selalu berkata, “gak apa – apa, kita bisa coba lagi besok”. Sederhana sih, tapi itulah api yang ku butuhkan untuk membakar kembali semangatku yang hilang.

Aku berkata seperti itu bukan semata – mata dia merupakan orang yang tidak pernah menyerah. Dia pun juga manusia, ada rasa lelah, terkadang mengeluh, dan menangis. Namun ia selalu mengesampingkan itu semua hanya untuk membuatku bangkit. Baginya semangatku merupakan hal terpenting, baginya pula aku harus hidup lebih bahagia dibandingkan dengan dia. Memang sih terkadang aku tidak setuju, tapi itulah manusia, terkadang merasa tidak bersyukur. Kita sama – sama pernah jatuh, kok. Kita juga sama – sama pernah merasakan menjadi “manusia”, namun satu yang kita butuhkan yaitu untuk saling menjadi pengingat.

Selasa, 05 Februari 2019

Kita Pantas Untuk Bahagia


Putus asa, aku pernah merasakan apa yang biasa orang kenal dengan “putus asa”. Aku hampir termakan oleh situasi itu, semua kemungkinan terburuk selalu muncul di otakku seakan sudah tidak akan pernah ada lagi jalan keluarnya. Aku juga yakin semua orang pasti pernah merasakan yang namanya putus asa, bagiku putus asa tidak memiliki takaran seberapa besar atau kecil layaknya makanan atau minuman. Semua putus asa yang pernah dirasakan oleh setiap orang sama rata, karena cobaan datang selalu sesuai dengan kemampuan masing – masing orang.

Banyak hal yang membuatku merasa putus asa, salah satunya ialah perasaan bahwa “aku tidak pantas”. Mungkin bagi beberapa orang kalimat tersebut terdengar biasa, namun tidak denganku. Banyak kalimat menyedihkan lainnya yang akan selalu melekat di ingatanku, contoh kecilnya seperti,
“Kamu bisanya apa sih? Gak ada?”
“Kamu tuh gak pantes ada diposisi itu”
“Sadar dong kamu siapa”
“Kamu Cuma bisa mengerjakan dengan asal – asalan seperti ini? Lantas untuk apa ini?” padahal saat itu aku sudah berusaha melakukan yang terbaik yang aku bisa, namun aku tetap dianggap tidak bisa apa – apa.
Lalu satu kalimat yang paling melekat di dalam ingatanku adalah,
“Sadar diri deh, anak brokenhome kayak kamu gak pantas bahagia”.

Iya, tentu saja aku runtuh saat itu. Aku merasa tidak pantas untuk hidup, bahkan apa yang sudah kulakukan dengan sepenuh hati tetap tidak dianggap dan disepelekan oleh mereka. Tapi, untuk aku dan kalian semua yang mungkin merasakan hal seperti aku, kita tidak boleh terlarut dalam perkataan orang lain yang mampu menjatuhkan kita. Mau sampai kapan kita hidup hanya terus memuaskan ekspektasi orang lain akan diri kita. Kalau merasa sudah tidak pantas diposisi itu ya pergi, kalau memang sudah tidak bisa diupayakan dengan baik. Untuk apa aku dan kalian bertahan hanya untuk menunjukan mereka bahwa aku mampu tetapi aku sendiri tidak bahagia ada disana. Ingat, yang terpenting itu hidup bahagia. Untuk menjadi bahagia kita tidak perlu mendengarkan kata mereka yang hanya mampu menjatuhkan kita dan membuat kita berada diposisi itu itu aja. Cari posisi baru yang menurut kamu kamu pantas berada disana, tentunya kamu juga harus bahagia disana.

Kita hidup tidak untuk memenuhi ekpektasi setiap orang, kita hidup untuk kebahagiaan kita sendiri. Karena bahagia itu priceless, dengan kalian bahagia kalian akan menjadi pribadi yang lebih bersyukur, dibandingkan hanya dengan berusaha memenuhi ekspektasi orang lain yang bahkan mereka pun tidak menghidupimu, tidak memberi kamu nyawa untuk kamu tetap merasa hidup. Singkirkanlah orang – orang yang mampu membuatmu jatuh, karena kunci untuk keluar dari putus asa adalah bahagia. Coba cari kebahagiaanmu di tempat lain, cari lingkungan yang membuatmu bangkit bukan jatuh. Cari lingkungan yang membangunmu bukan meruntuhkanmu. Karena kita berhak bahagia!

Minggu, 03 Februari 2019

Review Elshe Skin

HIIIII, malam ini ga nulis curhatan dulu yaa soalnya lagi  mood buat review nih. Sebenernya aku penggila skincare banget, doyan nyobain skincare sana sini. Mulai dari skincare produk lokal sampai produk korea yang lagi hits sekalipun. Tapi kali ini bukan mau review skincare korea yang super duper banyak macamnya, tenang aja ini lokal punya kok yang bakalan aku review. Eits, tapi sebelumnya kenalin dulu yuk jenis muka aku, siapa tau ada yang jenisnya sama dan bisa cobain produk yang sama.

Jadi kulitku itu termausk kulit yang berminyak, sangat berminyak. Kebanyakan orang menghasilkan minyak Cuma di T zonenya aja kan (buat yang ga tau T zone boleh google ya soalnya agak susah juga aku jelasinnya hehe). Tapi berbeda dengan muka ku, hampir keseluruhan muka ku ini berminyak dan yang lebih parahnya adalah mudah bruntusan, terutama kalau pake makeup atau produk skincare lainnya yang ga cocok. Sebenarnya kebanyakan orang punya masalah kulit itu jerawatan ya, aku sendiri lebih ke bruntusan daripada jerawatan. Jerawat hanya timbul ketika aku lagi datang tamu bulanan aja hehe

Alasan aku memilih Elshe Skin sebagai solusi dari kulit wajahku adalah karena aku sudah lelah nyobain produk sana sini yang akhirnya terkadang ga memuaskan. Terlebih kulitku sering sekali terpapar sinar matahari dan terkena bahan kimia dari makeup, jadi akhirnya aku putuskan untuk memilih konsultasi dengan dokter muka yang tentunya obatnya sudah pasti akan cocok sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh kulitku.

Elshe skin sendiri merupakan skincare asal Indonesia yang sudah berdiri selama 5 tahun.
Saat aku melakukan konsultasi online dengan dokter dari Elshe Skin akhirnya aku dipastikan memiliki wajah yang cenderung berkomedo, jika tidak dicegah maka komedo – komedo yang menumpuk dimuka ku akan berubah menjadi jerawat yang artinya sangat amat tidak bagus. Akhirnya aku diberikan serangkaian produk untuk jerawat karena produk – produk tersebut juga memiliki kegunaan untuk mencegah timbulnya jerawat. Produk yang aku dapatkan dari Elshe Skin antara lain:

1. ACNE CLEANSING WASH
Acne cleansing wash merupakan sabun cuci muka yang dikeluarkan oleh Elshe Skin khusus untuk kulit berjerawat. Teksturnya sedikit seperti gel cleanser dan aromanya benar – benar terasa aroma obat yang cukup kuat. Busa yang dihasilkan oleh cleansing ini tidak begitu banyak sehingga tidak terasa seperti sedang cuci muka yang benar benar bersih. Namun setelah dibilas barubterasa bersih wajahnya.

image source: instagram.com/elsheskin


2. ACNE REFRESH TONER
Yang kedua aku dapat toner yang juga dikhususkan untuk kulit berjerawat, toner ini sedikit berbeda dari toner yang biasanya aku gunakan. Toner ini tidak boleh diusap ke muka melainkan hanya ditepuk tepuk ringan saja ke wajah. Aromanya lagi lagi seperti aroma obat yang sangat kuat. In my opinion, toner ini sedikit terasa perih di beberapa bagian mukaku. Mungkin karena kandungannya yang begitu kuat untuk membunuh bakteri – bakteri penyebab jerawat, tetapi tidak begitu masalah.

image source: instagram.com/elsheskin



3. DAILY PROTECTION FOR ACNE
Untuk pelembab siang hari aku masih dikasih varian yang sama oleh dokternya yaitu untuk jerawat. Pelembabnya sendiri tidak memiliki bau sekuat sabun cuci mukanya dan tonernya, namun tetap berasa aromanya tidak begitu sedap. Ukuran dari pelembab ini cukup kecil, hanya 15g. Jadi aku pakainya sangat sedikit dan secukupnya saja. Teksturnya sendiri masih seperti pelembab pada umumnya, tidak begitu cepat kering, namun sudah ada kandungan sunscreen di dalamnya. Jadi unutuk yang suka malas pakai sunscreen tidak perlu khawatir lagi.


4. CREAM KOMEDO
Kalau cream komedo ini memiliki aroma yang tidak jauh berbeda dengan pelembabnya. Cream ini hanya boleh digunakan untuk malam hari sebelum tidur dan dioleskannya hanya ke bagian yang ada komedo atau jerawatnya. Terasa sedikit perih juga di beberapa bagian muka.


Nah itu dia tadi produk – produk yang lagi aku pakai untuk healing kulit muka ku yang sekarang sudah sangat sangat hancur. So far, aku bener – bener ngerasa cocok banget pakai produk – produk tersebut. Aku baru memakainya sekitar 1 minggu namun hasil yang diberikan sudah begitu terlihat. Bruntusak kecil – kecilku yang tadinya banyak banget kalau diraba ( soalnya kalau dilihat gak begitu terlihat saking kecilnya ) sudah hilang dan bener bener tidak merasa sedang melakukan pengobatan. Harga dari Elshe Skin pun termasuk murah, lho. Waktu pertama membeli paket perawatan Elshe Skin aku hanya perlu mengeluarkan uang sebesar 250 ribu rupiah. Jadi buat kalian yang mau perawatan muka ke dokter tanpa harus mahal bisa coba konsultasi ke Elshe Skin aja, tanpa harus keluar rumah dan tidak perlu membuang banyak biaya. Sekali lagi, aku bukan lagi promosi


Sekian dulu ya reviewnya semoga pada suka dan juga bermanfaat buat kalian yang masih bimbang mau memilih skincare apa untuk wajah kalian. Bye!!

Sabtu, 02 Februari 2019

Ruang Yang Kuciptakan Sendiri

Langit selalu cerah bahkan setiap pagi, melukiskan wajahmu didalamnya. Banyak cerita yang seharusnya awan ceritakan pada langit, namun sayang terkadang kabut menyerobot kesempatan itu. Aku mencintaimu seperti langit, yang selalu bersedia di sana untuk matahari. Meskipun kita tau bahwa matahari akan tergantikan dengan bulan serta bintang – bintang.

 Aku mencintaimu dengan sangat sederhana, seperti halnya akar pohon membutuhkan air untuk tetap hidup, meskipun terkadang cahaya berlebihan yang diberikan oleh matahari terhadap pohon akan membuatnya mati, tetapi pohon juga tetap membutuhkan matahari. Mencintaimu cukup sesederhana itu, bahkan bisa lebih sederhana lagi dari itu.

Pagi itu aku merasa kamu lah matahariku, kamu datang dengan cahaya silau yang membuat mataku terpukau. Aku bukan sedang merayu, tapi sungguh, kamulah seakan matahari hangat yang aku cari selama ini. Mencintaimu tak perlu seperti rumus matematika yang butuh waktu lama untuk menyelesaikannya.

Awalnya ku kira untuk tetap bertahan dengan keinginanku untuk selalu bersamamu menjadi suatu hal yang sederhana juga, seperti mencintaimu. Namun ternyata semua tak sesederhana itu. Butuh keseriusan yang besar untuk tetap bertahan bersamamu, lebih tepatnya bertahan dalam ruang yang kuciptakan sendiri. Aku tidak cukup berani untuk mengungkapkannya padamu, ya mungkin aku pengecut yang selama ini sedang berlindung.

Katamu langit tetap setia pada matahari walaupun ia akan digantikan oleh bulan dan bintang, dan kamu juga sempat bertanya,  jika bulan dan bintang lebih indah dari sebuah matahari lalu untuk apa langit tetap setia pada matahari?

Tapi menurutku kesetiaan bukanlah hal rumit yang selalu membayang – bayangi. Langit akan tetap selalu bersedia untuk matahari, apapun yang terjadi, sekalipun matahari akan lebih memilih pergi lebih awal ataupun tepat waktu. Ketahuilah bahwa senja tidak  akan terlihat indah tanpa matahari. Senja yang katamau selalu hangat dan menawan, itu semua terjadi karena hadirnya matahari yang selalu melengkapi.

Meet my cutie pie




Hai, kemarin saya gak nulis blog, Cuma sehari sih tapi ya lumayan lah baru disuruh nulis udah bolong 1 hari haha. Kemarin abis ada acara keluarga terus pas pulang keadaan udah gak fit, iya sakit. Gak ngerti juga kenapa bisa sakit, mungkin karena faktor cuaca yang memang lagi kurang baik. Jadi kemarin sesampainya di rumah saya langsung tepar, alias tidur. Dua hari yang lalu kan saya udah curhat ya tentang diri saya, dan sekarang saya akan curhat lagi. Gak apa apa ya baca curhatan saya terus. Hehe.

Jadi, saya tuh salah satu dari sekian banyak cat lovers garis keras, padahal dulu se-benci itu sama kucing tapi entah kenapa sekarang jadi se-suka itu sama kucing. Awalnya sih karena kakak saya beli kucing temennya yang mungkin umurnya masih sekitar 3-4 bulan saat itu, dan dia diberi nama “Pesek”. Iya dikasih nama Pesek soalnya hidungnya pesek, karena dia merupakan  kucing jenis Persian dan warnanya hitam putih. Awalnya bagi saya Pesek bukanlah bagian dari anggota kekuarga kami, saya bener – bener benci saat itu sama Pesek, saking saya benci sama dia rasanya saya pengen buang dia diem – diem tanpa sepengetahuan kakak saya. Karena setiap malam dia selalu mengganggu saya, dia mendekati saya dan menggigiti rambut saya.

Namun seiring berjalannya waktu entah bagaimana ceritanya saya jadi amat sangat jatuh cinta sama Pesek, bukan sama Pesek aja sih tapi sama semua kucing yang saya temui. Namun waktu berjalan sangat cepat sehingga tidak terasa kalau Pesek sudah memiliki banyak keturunan. Tapi sayang, Pesek bukan tipe kucing yang suka dengan kucing se-rasnya. Justru sebaliknya, Pesek malah lebih menyukai kucing domestik, biasanya sih orang – orang lebih kenal dengan sebutan “kucing kampung”. Dia akhirnya kawin dengan kucing kampung yang ada di dekat rumah saya, alhasil anaknya adalah anak campuran antara ras persian dan domestik.

Semenjak saat itu saya jadi lebih suka kucing, bukan lebih lagi tapi emang jadi sangat sangat suka dengan kucing. Sekarang saya memiliki kucing sebanyak 15 ekor yang mayoritas adalah kucing domestik. Beberapa dari mereka masih ada keturunan Peseknya, namun sebagian dari mereka sudah bukan lagi turunan dari Pesek. Tapi sayang sekali, Pesek Cuma hidup selama 6 tahun, iya sekarang dia udah ga ada. Saya Cuma mau mengucapkan terimakasih yang banyak kepada Pesek, ya meskipun dia ga akan ngerti juga sih. Tapi kalau bukan karena Pesek mungkin saya tidak akan menyukai kucing sampai saat ini. Atau mungkin lebih parahnya saya akan menjadi orang – orang yang sangat amat benci dengan kucing sehingga bisa saja saya memandang mereka hanya sebelah mata. Saat ini pesek bukanlah hanya sekedar kucing bagi saya dan juga keluarga saya, melainkan sudah seperti bagian dari kami. Karena Pesek kami jadi lebih memahami bagaimana lebih menghargai dan memperlakukan makhluk hidup sama seperti kami memperlakukan diri kami sendiri.


Kamis, 31 Januari 2019

SAYA (lagi)

Pertama – tama saya ingin memperkenalkan diri (lagi, tapi sedikit lebih dalam), mungkin tidak terlalu penting tapi kata orang “tak kenal maka tak sayang”, makanya harus kenal saya dulu siapa tau  bisa sayang. Nama saya Caecilia Wanda Marisa, bagi saya itu bukan hanya sekedar nama, melainkan memiliki kekuatan tersendiri di dalamnya, ya walaupun orangtua saya tidak memberitahu secara jelas apa maksud dari nama saya tersebut. Meski begitu saya yakin kedua orangtua saya menyelipkan makna baik di dalam nama saya, walaupun saya juga tidak tahu pasti apa itu. Lalu saya memiliki satu kakak laki - laki, nama depan kami tidak jauh berbeda, saya Caecilia dan dia Caesar. Selisih umur kami hanya 4 tahun, tidak terlalu jauh untuk ukuran kakak beradik, jadi kami sangat sering bertengkar. Saya juga tidak mengerti mengapa saya harus hidup bersama makhluk menyebalkan seperti dia. Namun pertengkaran kami yang seakan sudah menjadi rutinitassehari – hari itu  seketika berakhir setelah orangtua kami berpisah, kami harus mulai merangkul satu sama lain, hal tersebutlah yang mungkin membuat kami seketika menjadi seperti kakak beradik pada umumnya.

Sehari - hari saya menyibukan diri dengan menjadi seorang mahasiswa di salah satu universitas swasta di Tangerang Selatan, saya bukan termasuk mahasiswa yang pintar dan juga rajin, saya hanya berusaha melakukan yang terbaik dengan semaksimal mungkin. Terkadang saya merasa risih karena dengan keberadaan kakak saya, menurut saya ia terlalu berbakat sehingga sangat sering dipuji oleh keluarga saya. Maklum lah darah seni dari Ayah saya menurun ke kakak saya, jadi bakatnya selalu menjadi perbincangan ketika kami sedang kumpul keluarga.

Berbeda dengan kakak saya yang sibuk di dunia seni. Sebenarnya saya tidak begitu menyukai jurusan yang saya ambil saat ini, namun saya harus tetap melanjutkan apa yang sudah saya mulai sejak awal. Dulu saya memiliki cita – cita menjadi sastrawan, seperti Sapardi Djoko Damono. Bisa menulis puisi dan sajak dengan indah dan mampu dinikmati oleh banyak orang sebagai obat hati mereka. Namun apalah daya, orangtua saya tidak mengizinkan saya mengambil universitas di luar kota yang memiliki pendidikan sastra yang bagus. Saya sebagai anak yang memiliki kewajiban untuk mematuhi orangtua, jadi saya hanya bisa nurut apa yang diperintahkan oleh orangtua saya. Meskipun saya saat ini berada di jurusan yang saya tidak suka tetapi saya tetap  tidak ingin menyerah untuk menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Semoga dengan begitu saya mampu membuat kedua orangtua saya menjadi bangga terhadap saya, setidaknya tidak membuat malu.